BAB 5 ~ DRAMA SEPUTAR TIMNAS PART 24 ~ BERITA KARANGAN FIKSI (Disclaimer)
Keisuke Honda, legenda sepak bola Jepang sekaligus mantan pelatih Timnas Kamboja, melontarkan pernyataan pedas terhadap performa Timnas Malaysia U-23 yang tersingkir dari Piala AFF U-23 2025. Kegagalan Malaysia melaju ke semifinal usai hanya bermain imbang 0-0 melawan Indonesia U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno menuai reaksi keras dari Honda.
Dalam wawancara dengan media Jepang, Honda mengkritik gaya bermain Malaysia yang dianggap pasif dan tak menunjukkan semangat juang. Ia menyebut permainan Harimau Muda di laga penting tersebut sebagai "pengecut" dan "tanpa karakter".
“Mereka tahu harus menang dua gol, tapi justru bermain seperti tim yang takut kalah. Backpass terus, longball tanpa arah, tidak ada tekanan berarti. Sepak bola seperti ini tidak akan membawa kemajuan. Ini bukan strategi, ini kepanikan,” tegas Honda.
Eks bintang AC Milan itu juga menyindir keras para suporter Malaysia yang sebelumnya sesumbar akan mempermalukan Indonesia di kandang sendiri. Sebelum laga, media sosial sempat ramai dengan komentar fans Malaysia yang menyebut timnya akan “membantai” Garuda Muda di depan publik GBK.
“Saya membaca banyak komentar dari fans Malaysia yang terlalu percaya diri. Mereka pikir akan membantai Indonesia. Nyatanya, malah tidak bisa cetak satu gol pun. Bicara besar sebelum pertandingan tapi bungkam setelahnya. Mental seperti ini hanya akan mempermalukan diri sendiri,” ujarnya tajam.
Keisuke Honda juga turut menanggapi gelombang kekecewaan dari netizen Malaysia terhadap tim U-23 mereka. Setelah tersingkir, kolom komentar akun resmi Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) dibanjiri kritik keras. Banyak netizen menyebut permainan tim membosankan, lamban, dan tidak menunjukkan semangat untuk menang.
Menurut Honda, kritik tersebut wajar dan bahkan menunjukkan bahwa publik Malaysia mulai sadar akan stagnasi yang terjadi dalam sistem sepak bola mereka.
“Saya tidak menyalahkan fans. Justru saya senang melihat mereka kecewa, karena itu artinya mereka peduli. Tapi sistem sepak bola Malaysia harus berubah. Tidak bisa hanya andalkan pemain lokal tanpa visi besar. Negara lain di Asia Tenggara sudah mulai bangkit, Malaysia malah jalan di tempat,” ujar Honda.
Ia juga menyinggung kegagalan berulang Timnas Malaysia U-23 di ajang yang sama. Setelah gagal pada edisi 2019 dan 2022, hasil buruk di 2025 semakin menegaskan bahwa ada masalah serius di level pembinaan dan mentalitas.
“Kalau dalam enam tahun tidak ada perkembangan berarti, artinya ada yang salah. Sepak bola bukan hanya soal teknik, tapi juga mental. Tim Malaysia U-23 kalah sebelum bertanding karena mereka tidak punya nyali untuk menang,” tambahnya.
Keisuke Honda mengakhiri pernyataannya dengan pesan tegas bahwa sepak bola modern membutuhkan keberanian dan visi jangka panjang. Ia menyebut bahwa tidak ada lagi ruang untuk bermain aman jika sebuah negara ingin bersaing di level Asia Tenggara dan lebih tinggi lagi.
“Tim yang tidak berani ambil risiko akan terus tertinggal. Sepak bola itu bukan soal gengsi semata, tapi soal karakter di lapangan. Dan malam itu di Jakarta, Timnas Malaysia U-23 bermain tanpa karakter,” tutup Honda.
Pernyataan Honda ini sontak menjadi sorotan di kalangan penggemar sepak bola Asia Tenggara. Meski keras, banyak yang menilai komentarnya tepat sasaran melihat performa mengecewakan Malaysia sepanjang fase grup. sebelumnya Timnas Malaysia U-23 menjadi sasaran kritik pedas dari netizen negaranya sendiri setelah gagal melaju ke semifinal Piala AFF U-23 2025.
Malaysia dipastikan tersingkir usai hanya bermain imbang 0-0 melawan Timnas Indonesia U-23 dalam laga terakhir Grup A yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, pada Senin malam.
Hasil tersebut membuat Tim Harimau Muda finis di peringkat ketiga klasemen Grup A, dengan catatan satu kemenangan dan dua kekalahan. Situasi ini memicu kemarahan dan kekecewaan dari para pendukung Malaysia, yang ramai-ramai meluapkan kritik mereka di kolom komentar media sosial resmi Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM).
Salah satu netizen menyoroti gaya bermain tim Malaysia yang dianggap pasif dan tidak menunjukkan semangat juang.
"Sampai harus main backpass, longball, bertahan terus. Baru kali ini rasanya ingin marah nonton tim nasional. Kalian latihan tiap hari tapi main seperti orang bodoh," tulis seorang netizen.
"Sudah tahu harus menang 2-0, tapi main lambat. Ada peluang malah ditarik ke belakang. Di 15 menit terakhir, bukannya menekan, malah tetap santai. Apa yang bisa dibanggakan dari hasil imbang lawan Indonesia?" tambahnya. Tak hanya soal pertandingan, kritik juga diarahkan pada masa depan sepak bola Malaysia secara keseluruhan. Sejumlah netizen Malaysia menilai masa depan sepak bola Negeri Jiran tidak akan maju jika hanya mengandalkan pemain lokal, tanpa naturalisasi.
"Sepak bola Malaysia tidak punya masa depan kalau terus pakai pemain lokal saja. Kita harus realistis, lihatlah negara lain yang sudah lebih maju," ujar komentar lainnya.
Meskipun pertandingan berakhir imbang, beberapa netizen Malaysia merasa Indonesia tampil lebih dominan secara permainan.
"Skornya memang seri, tapi secara permainan Indonesia jelas menang. Kita [Malaysia] cuma bisa longball dan counter. Yang paling sakit hati itu, di akhir laga, masih santai main bola. Coach Nafuzi, tolong lakukan sesuatu, kami masih percaya padamu," tulis seorang netizen.
Ada juga netizen yang menyoroti kegagalan berulang Timnas Malaysia U-23 di ajang Piala AFF U-23.
"2019 gagal, 2022 gagal, 2025 juga gagal. Mungkin sebaiknya bubar saja tim U-23 ini," tulis seorang warganet Malaysia.
----------------------------------------------------------------------
Berita diatas jelas karangan belaka untuk mengedukasi pembaca dan penonton bahwa semua yang berhubungan dengan itu dipastikan hoax, semua dibuat dengan bantuan AI. ini bertujuan untuk membuka mata penonton di youtube karena banyak konten hoax karangan yang bertebaran disana.
Komentar
Posting Komentar