BAB 5 ~ DRAMA SEPUTAR TIMNAS PART 28 ~  BERITA KARANGAN FIKSI (Disclaimer)

Kekalahan menyakitkan Timnas Indonesia U-23 di partai final Piala AFF U23 2025 melawan Vietnam kembali membuka luka lama, tetapi kali ini bukan dari suporter Indonesia, bukan pula dari pengamat lokal. Sosok mengejutkan yang angkat bicara justru adalah mantan pelatih Timnas Vietnam yang dikenal sangat dihormati di Asia Tenggara, Park Hang-seo.

Dalam wawancara eksklusif oleh media korea selatan yang mengadakan nonton bareng laga final tersebut, diluar dugaan Park Hang-seo tidak menahan diri. Ia berbicara tegas, terbuka, dan bahkan mengecam keputusan-keputusan strategis PSSI yang menurutnya menjadi biang kerok dari merosotnya performa Timnas Indonesia U-23, terutama setelah pemecatan Shin Tae-yong, pelatih asal Korea Selatan yang sebelumnya membesut skuad Garuda Muda dengan gaya yang lebih eksplosif dan realistis.

“Saya tidak habis pikir. Jujur saya heran, benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin pelatih sekelas Shin Tae-yong dipecat setelah membawa kemajuan signifikan untuk sepak bola Indonesia dalam waktu singkat?” ungkap Park Hang-seo dengan nada penuh emosi.

Menurut Park, pengganti Shin Tae-yong, yakni pelatih asal Belanda Gerald Vanenburg, terlalu memaksakan gaya permainan total football yang justru tidak cocok dengan karakter dasar dan kekuatan fisik para pemain Indonesia.

“Gaya Belanda itu bagus, tapi hanya untuk pemain yang punya fisik prima dan disiplin posisi yang tinggi. Indonesia bukan Belanda. Mereka bukan Ajax Amsterdam. Pemain Indonesia tidak dibentuk untuk memainkan bola-bola pendek sambil terus bergerak selama 90 menit tanpa henti. Itu bukan DNA mereka.”

Lebih lanjut, Park menyebut bahwa strategi yang diterapkan Vanenburg terlihat monoton dan mudah dibaca lawan. Ia menilai bahwa permainan Indonesia sangat terbuka, tetapi tidak punya kekuatan bertahan yang solid atau transisi cepat untuk menghukum lawan lewat serangan balik.

“Waktu Shin masih melatih, Indonesia itu menakutkan. Serangan balik mereka cepat, efisien, dan mematikan. Mereka tidak mencoba bermain indah, tapi mereka bermain efektif. Dan itu yang dibutuhkan di level turnamen,” jelasnya.

Salah satu sorotan paling tajam Park Hang-seo adalah soal kondisi fisik para pemain Indonesia. Ia menyebut bahwa dari 70 menit pertandingan, para pemain Indonesia terlihat sudah kehabisan tenaga. Gerakan lambat, respon telat, dan tidak ada tekanan berarti kepada pemain Vietnam yang menguasai lini tengah.

“Fisik mereka sangat lemah. Saya tidak bicara soal satu-dua pemain. Hampir seluruh tim Indonesia terlihat lelah. Ini bukan salah pemain, ini kesalahan tim pelatih dan program latihan yang tidak optimal. Apa yang dilakukan Vanenburg dan timnya selama persiapan?”

Park bahkan menyindir bahwa latihan fisik era Shin Tae-yong sangat keras, namun hasilnya terlihat nyata. Indonesia sempat membuat kejutan besar di Piala Asia U-23 2024, bahkan mengimbangi tim-tim kuat Asia. Namun semua itu hilang begitu Shin Tae-yong hengkang.

“Shin itu pelatih yang tahu bagaimana membentuk tim dari nol. Dia bukan hanya ahli taktik, dia manajer lapangan yang punya insting kuat. Pemain Indonesia berkembang cepat di bawah asuhannya. Sekarang? Mereka seperti kembali ke titik nol.”

Salah satu pernyataan paling mengejutkan Park Hang-seo adalah ketika ia secara langsung menyebut nama Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas kekacauan strategi dan hasil buruk di final.

“Saya tahu siapa Erick Thohir. Dia tokoh besar, punya reputasi, tapi sepak bola bukan soal citra. Sepak bola butuh konsistensi visi. Mengganti pelatih yang sudah membangun sistem selama bertahun-tahun dengan alasan yang tidak jelas adalah keputusan bodoh. Dan itu dilakukan oleh PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir.”

Park menyatakan bahwa keputusan memberhentikan Shin Tae-yong bukanlah keputusan teknis, melainkan lebih banyak didasari oleh faktor non-sepak bola.

“Mereka lebih memilih pelatih yang ‘bergaya Eropa’ padahal tidak paham bahwa sepak bola Asia Tenggara punya karakternya sendiri. Mereka ingin permainan indah, tapi melupakan kenyataan bahwa sepak bola bukan pertunjukan teater.”

Park menyarankan agar Erick Thohir mulai mendengarkan suara dari orang-orang teknis di sekelilingnya, bukan hanya sekadar memoles tampilan luar organisasi.

Menurut Park, total football adalah sistem kompleks yang membutuhkan waktu panjang dan pemain-pemain dengan kecerdasan taktis di atas rata-rata. Belanda sukses karena mereka menanam filosofi ini sejak usia dini, dari akademi sampai timnas senior.

“Apa yang saya lihat dari Indonesia hari ini adalah tim yang ingin meniru gaya Belanda tanpa memiliki pondasi Belanda. Mereka memaksakan ball possession, build-up dari belakang, padahal ketika ditekan, pemain hanya bisa mengoper ke belakang atau kehilangan bola.”

Ia menegaskan bahwa kekuatan Indonesia adalah kecepatan, determinasi, dan kejutan serangan balik — semua ciri khas yang sudah dipupuk oleh Shin Tae-yong dan kini hilang begitu saja.

“Mereka coba main indah, tapi lupa caranya menang. Ini kesalahan besar. Sepak bola itu soal hasil. Kalau strategi indah tapi tidak menghasilkan gol, untuk apa?”

Di akhir wawancaranya, Park memberikan saran yang cukup mengejutkan sekaligus kontroversial: memanggil kembali Shin Tae-yong ke Timnas Indonesia.

“Saya tahu ini mungkin sulit secara politik atau ego, tapi jika Indonesia ingin kembali kompetitif dalam waktu dekat, mereka harus akui kesalahan mereka dan meminta Shin kembali. Tidak ada pelatih asing yang lebih mengenal pemain Indonesia sebaik dia.”

Ia juga menekankan bahwa waktu Indonesia tidak banyak. Dengan banyak turnamen besar menanti, PSSI harus segera mengambil langkah besar sebelum penurunan performa menjadi permanen.

“Indonesia sedang berada di persimpangan. Mereka bisa kembali ke jalur yang benar, atau tenggelam dalam eksperimen tak berujung. Semua tergantung pada Erick Thohir dan orang-orang di sekelilingnya.”

Kritik tajam dari Park Hang-seo bukan hanya sekadar sentimen sesama pelatih asal Korea Selatan, melainkan datang dari sosok yang telah menyaksikan langsung transformasi dan kini kemunduran Timnas Indonesia U-23. Pernyataan kerasnya membuka ruang diskusi luas di kalangan pengamat sepak bola Asia Tenggara. Apakah PSSI akan membuka mata dan telinga mereka terhadap suara-suara seperti ini, atau justru kembali berdiri di balik tembok gengsi dan politik internal.

Kekalahan Timnas Indonesia U-23 dari Vietnam U-23 di final Piala AFF U-23 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Selasa (29/7/2025) malam WIB, bukan hanya menyakitkan dari sisi skor. Lebih dari itu, pernyataan dari bek senior Vietnam, Doan Van Hau, membuat luka lama para suporter Indonesia kembali menganga.

Vietnam keluar sebagai juara setelah mengalahkan Indonesia dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang dicetak oleh Nguyen Cong Phuong di menit ke-37 melalui situasi sepak pojok. Meski Indonesia mendominasi penguasaan bola, menciptakan lebih banyak peluang dan menunjukkan permainan terbuka, Vietnam tampil lebih efektif dan disiplin, khususnya dalam bertahan.

Namun, bukan jalannya pertandingan yang kemudian ramai dibicarakan, melainkan komentar dari Doan Van Hau. Pemain belakang yang dikenal sebagai figur kontroversial dalam setiap pertemuan dengan Indonesia ini kembali menciptakan kegaduhan lewat komentarnya yang sinis dan provokatif.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan media Vietnam usai pertandingan, Van Hau menyampaikan rasa puasnya atas kemenangan tersebut. Namun bukan hanya karena trofi yang diraih, melainkan karena strategi Vietnam untuk memancing emosi para pemain Indonesia berhasil dijalankan dengan sempurna.

"Saya sangat senang melihat para pemain muda kami bermain cerdas. Mereka tahu kapan harus bermain keras, kapan harus memprovokasi. Itu bagian dari strategi kami. Dan ya, kami berhasil,” ujar Van Hau tanpa ragu.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan momen favoritnya selama pertandingan bukan pada proses gol ataupun kemenangan akhir, melainkan saat salah satu pemain Vietnam menyikut pemain Indonesia.

"Momen terbaik malam ini? Ketika salah satu pemain kami menyikut pemain Indonesia, dan hanya diberi kartu kuning oleh wasit. Saya pikir itu keputusan yang tepat. Wasit tidak terbawa suasana stadion. Itu bukti bahwa kami bisa bermain keras tapi tetap dalam batas yang bisa dikendalikan. Itu kemenangan mental,” tegasnya.

Pernyataan ini langsung menuai kecaman luas, terutama di media sosial Indonesia. Banyak warganet menilai Van Hau tidak menunjukkan sportivitas dan justru mempermalukan nilai fair play yang seharusnya dijunjung tinggi dalam sepak bola.

Namun, Van Hau justru menegaskan bahwa bermain keras, bahkan dengan provokasi, adalah bagian dari permainan. Menurutnya, kelemahan terbesar Indonesia di laga final bukanlah taktik, melainkan emosi yang tak terkontrol.

"Indonesia bermain bagus. Mereka menyerang sejak awal dan menguasai bola. Tapi mereka mudah terpancing. Itu kelemahan mereka. Kami tahu itu sejak awal dan kami manfaatkan. Kami ingin mereka kehilangan fokus, dan itu terjadi,” tambah pemain yang kini membela Cong An Ha Noi tersebut.

Ia juga memuji wasit yang dianggapnya tampil konsisten dan tidak memihak meski bermain di kandang Indonesia yang penuh tekanan.

"Wasit sudah benar. Banyak pelanggaran yang memang keras, tapi itu masih dalam batas. Tidak semua pelanggaran keras harus kartu merah. Ini laga final, intensitas tinggi. Saya pikir wasit sudah menjalankan tugasnya dengan baik," ujar Van Hau.

Pernyataan ini menambah panjang daftar kontroversi Doan Van Hau terhadap Indonesia. Namanya mencuat di publik Tanah Air sejak final SEA Games 2019 ketika ia melakukan tekel keras yang menyebabkan Evan Dimas cedera dan gagal melanjutkan pertandingan. Sejak saat itu, Van Hau menjadi "musuh publik" bagi banyak pendukung sepak bola Indonesia, bahkan mendapat stigma sebagai pemain "tukang sikut".

Dalam AFF 2022 lalu, Van Hau kembali jadi sorotan karena dianggap melakukan tekel berbahaya terhadap Dendy Sulistyawan dan Azam Azmi. Saat itu pun, ia lolos dari kartu merah dan justru Azam-lah yang mendapat hukuman akibat bereaksi terhadap pelanggaran Van Hau. Publik Indonesia merasa bahwa wasit terlalu lunak terhadap bek Vietnam tersebut.

Kini, dalam final Piala AFF U-23 2025, Van Hau seakan sengaja membakar emosi publik Indonesia dengan kembali membuka luka lama. Ucapannya soal keberhasilan memprovokasi dan menyikut pemain Indonesia seolah mempertegas bahwa gaya bermain keras yang ia bawa adalah bagian dari identitas Vietnam saat ini.

Reaksi keras pun bermunculan dari berbagai kalangan. Beberapa mantan pemain dan pengamat sepak bola nasional menilai pernyataan Van Hau bukan hanya tidak etis, tetapi mencederai semangat sportivitas antarbangsa. Tak sedikit yang meminta AFF untuk mengevaluasi perilaku pemain seperti ini agar citra kompetisi tetap terjaga.

Meski demikian, Van Hau tetap pada pendiriannya. Ia bahkan menyebut rivalitas antara Indonesia dan Vietnam sebagai "bumbu" yang membuat pertandingan menjadi lebih hidup dan penuh tekanan.

"Saya tahu banyak orang Indonesia tidak suka saya. Tapi itu bagian dari rivalitas. Saya tidak bermain untuk membuat lawan nyaman. Saya bermain untuk menang, dan jika itu berarti harus bermain keras, saya akan lakukan," tutup Van Hau.

Dengan hasil ini, Vietnam U-23 kembali meraih gelar juara Piala AFF U-23, mengulang sukses mereka dua tahun lalu. Sementara bagi Indonesia, ini menjadi alarm keras soal kesiapan mental dan kontrol emosi dalam pertandingan besar. Meski bermain dengan kualitas teknik dan strategi yang menjanjikan, satu momen kelengahan bisa menjadi pembeda.

Laga ini mungkin sudah selesai, tetapi percikan emosinya akan tetap menyala. Doan Van Hau sekali lagi membuktikan dirinya bukan hanya pemain belakang yang keras, tetapi juga tokoh antagonis dalam rivalitas sepak bola Asia Tenggara. Dan untuk kesekian kalinya, Indonesia menjadi korbannya.

----------------------------------------------------------------------

Berita diatas jelas karangan belaka untuk mengedukasi pembaca dan penonton bahwa semua yang berhubungan dengan itu dipastikan hoax, semua dibuat dengan bantuan AI. ini bertujuan untuk membuka mata penonton di youtube karena banyak konten hoax karangan yang bertebaran disana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini